a)Apakah
keuntungan dan kerugian aktifitas fermentasi oleh mikrobia rumen?
Jawab:
keuntungan
1.Selulosa
dan polimer-polimer yang bersal dari tanaman yang tidak bisa dicerna oleh enzim
yang dihasilkan oleh ternak yang bersangkutan dapat dicerna dan di pakai sebagai
sumber energy
2.Bakteri
dapat menggunakan senyawa nitrogen bukan protein (NPN) menjadi protein tubuh
yang akhirnya tersedia untuk induk semangnya (sapi).
3.Aktifitas
sintesis mikroorganisme dalam pembentukan vitamin menjadikan ternak tidak
tergantung dari suplai vitamin dari luar kecuali vitamin A dan D.
Kerugian:
1.Aktifitas
fermentasi tersebut banyak energy yang terbuang.
2.Proses
fermentasi untuk mikroorganisme, maka semua protein terdegradasi secara
sempurna, protein yang berkualitas tinggi terbuang percuma menjadi amoniak.
3.Ternak
mudah mengalami ketosis.
b)Mengapa
komposisi asam amino dalam ransum ruminansia tidak begitu pentingdi bandingkan
dengan non ruminansia (ternak babi) di mana komposisi asam amino harus tersedia
dalam ransum?
Jawab:
karena didalam rumen urea akan
dihidrolisa oleh enzim urease yang dihasikan oleh migroorganisme rumen menjadi
NH3 dan CO2. Bersamaan dengan itu terjadi pula hidrolisasi menjadi VFA dan asam
lemak keto. Kombinasi NH3 dan asam keto terbentuklah asam amino sebagai penyusun
protein tubuh mikroorganisme yang telah mati didalam abomasom mengalami
hidrolisa menjadi asam amino, selanjutnya diabsorbsi sebagai sumber protein
tubuh ternak.itulah sebabnya kenapa konsumsi asam amino dalam ransum ruminansia
tidak begitu penting karena berbeda dengan non ruminantsia( ternak babi) dimana
konsumsi asam amino harus tersedia didalam ransum.
c)Mengapa
manjemen pakan penting di lakukan?
Jawab :
Manajemen pakan
diperlukan untuk meningkatkan produktivitas ternak. Pakan yang diberikan pada ternak
berguna untuk mempertahankan hidup pokok yang antara lain dipergunakan untuk
mempertahankan suhu, energy untuk kondisi normal, protein serta mineral untuk
pergantian jaringan tubuh yang aus.
Pakan juga
digunakan utuk berproduksi yang meliputi pertumbuhan, produksi susu dan tenaga
kerja, serta bereproduksi (kawin, bunting, beranak, dan menyusui)
Mengapa formulasi ransum berbeda tiap fase berbeda?
d)Coba
buat formulasi ransum untuk sapi induk menyusui dengan berat badan 300 kg degan
menggunakan bahan pakan local?
e)Bagaimana
kita dapat melakukan evaluasi pakan pada
ternak ruminanansia dengan cepat?
Jawab :
Dengan
semakin tingginya tuntutan terhadap peningkatan, stabilitas sertakontinyuitas dalam berproduksi; maka pada perkembangan teknologi pakan tidak hanya diperlukan ketepatan komposisi bahan baku tetapi diperlukan juga ketelitian dalam komposisi dan keseimbangan zat nutrisi. Sehingga
untuk menyususn
suatu komposisi pakan yang tepat diperlukan juga pengetahuan dalammengevaluasisuatu bahan pakan, tidak hanya dalam
hal kondisi fisik tetapi jugakodisi zat nutrisi yang terkandung. Dengan
evaluasi yang tepat terhadap bahan pakan maka akan dapat tercapai
tujuan untuk membuat pakan/ransum yang sesuaidengan
kebutuhan ternak dan memberikan keuntungan yang maksimal melaluikonversi
pakan yang serendah-rendahnya.
f)Apabila
induk babi melahirkan anak 9 ekor,seberapa jumlah pakan yang dibutuhkan induk
babi tersebut? Jelaskan!
g)Jelaskan
secara singkat bagaimana strategi saudara dalam menyusun ransum babi yang
sesuia kebutuhan tetapi murah?
Jawb :
Yang
dimaksud dengan ransum: sejumlah bahan makanan atau campuran dari beberapa
bahan makanan yang diberikan kepada ternak dalam waktu tertentu, misalnya satu
hari satu malam. Penyusunan ransum ini harus diusahakan adanya zat-zat yang
diperlukan, dengan memilih makanan dari lingkungannya yang secara ekonomis
masih menguntungkan.
Penyusunan
ransum sangat bervareasi dan berbeda-beda, titik berat ransum terletak pada
kadar protein dan hidrat arang. Dengan demikian pedoman menysun ransum makanan
babi dipergunakan Imbangan Protein (IP). Imbangan ini menunjukkan suatu
perbandingan antara protein dapat dicerna (Prdd) dengan Martabat Pati (MP).
Martabat Pati ialah: angka yang menunjukkan kg (gr) pati murni yang sama besar
dayanya dengan 100 kg (gr) dari bahan makanan itu untuk membentuk lemak badan
yang sama banyaknya dalam tubuh.
Karena
bahan pakan tidak ada yang sempurna, bisa sesuai dengan kebutuhan ternak, maka
menyusun ransum dengan beberapa bahan pakan akan lebih baik, kerena bahan-bahan
tersebut akan saling melengkapi dan menutupi kekurangan
h)Faktor-faktor
apa yang perlu saudara pertimbangkan dalam menyusun ransum babi dan pemberian
pakan, sehingga diperoleh biaya pakan yang semurah mungkin dengan produksi yang
optimal!
Jawab :
Beberapa
factor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun ransum babi adalah
ketersediaannya dilapangan dalam arti mudah untuk memperolehnya, Kandungan
zat-zat makanan mencukupi bagi kebutuhan ternak babi, ekonomis dan efisien
dalam mencerna bahan-bahan makanan yang diberikan. Kebutuhan zat makanan babi
lepas sapih tergantung pada umur dan bobot badan.
i)Coba buat formulasi ransum untuk babi
digemukan dengan berat badan 35-60 kg! Dengan menggunakan bahan pakan lokal?
j)Jelaskan manajemen pakan pada anak menyusui?
Jawab:
pakan creep feeding untuk babi prae stater (
umur 3-4 minggu ) dan stater (umur 5 sampai disapih ) dengan kandungan protein
masing-masing 23,7% dan 19,69%. Meskipun air susu induk sesungguhnya sudah
memenuhi seluruh kebutuhan akan zat pakan untuk menopang pertumbuhan anaknya
kecuali zat besi.akan tetapi produksi susu mencapai maksimum hanya sampai
minggu ketiga dan setelah itu menurun secara perlahan, sedangkan kebutuhan
zat-zat pakan semakin meningkat, hal ini hanya dipengaruhi dari pemberian
tambahan pakan selama menyusui ( creep feed = pakan krip ) agar pertumbuhan
anak-anaknya tinggi. Perubahanyang mendadak pemberian susu ke pakan
konvensional
k)Seandainya
anda sebagai peternak dimana,cara pemberian pakan babi antara wed feeding
VSdry feeding, kelompok VS individu,
mana yang akan anda pilih? Jelaskan!
Jawab:
Cara yang akan dipilih adalah wet feeding vs dry
feeding,
Wet feeding adalah pemberian pakan
yang dilakukan dalam kondisi basah,yaitu ransum dan airdicampur. Keuntungan cara ini adalah:
a.Konsumsi
pakan lebih banyak
b.Waktu
konsumsi lebih pendek,karena bila terlalu lama cepat menjadi busuk
c.Lebih
praktis
d.Tidak
menimbulkan iritasi mata pada babi
Dry feedingadalah pemberian pakan dalam kondisi kering
dan pemberian air terpisah. Keuntungan pemberian pakan ini adalah:
a.Ransum
yang dikonsumsi lebih merata, pertumbuhan ini lebih unform dan dapat
mengonsumsi dalam angka waktu yang lebih lama karena tidak cepat membusuk
b.Penggunaan
tenaga kerja lebih efisien.
l)Jelaskan cara evaluasi pakan pada pemberian
pakan untuk breeding pada ternak babi!
m)Sebutkan
indicator untuk menentukan efisiensi biaya pakan pada babi fattening! Jelaskan!
Jawab
:
indikator untuk
menilai efisiensi penggunaan pakan pada grower-finisher dengan mengukur angka
FCR dan feed cost gain. Proses penggemukan semakin lama yang didominasi oleh
deposisi lemak, angka konsumsi pakan semakain tinggi dan feed cost / gain
semakin besar. Imbangan antara biaya pakan ( feed cost ) dengan nilai financial
1 kg gain, menentukan kapan seharusnya babi pengemukan dijual atau dipotong.
Namun demikian, deposisi lemak yang meningkat selama proses penggemukan juga
mengakibatkan nilai produk pemotongan untuk setiap unit berat badan juga
menurun,dan nilai financial 1 kg gain juga menurun.
n)Beraparasio induk dan pejantan dalam usaha
perkembang-biakan (breeding) babi agar efisien biaya pakannya? Jelaskan!
Jawab :
alokasi
biaya pakan babi digunakan untuk keperluan induk / pejantan (breeding stock )
dan anak babi periode growing finishing fattening / pengemukan ). Dalam usaha
peternakan pemberian pakan pada induk dan pejantan tidak memberikan nilai
tambah tetapi pada babi fattening akan memberikan nilai tambah berat badan yang
indikasinya dapat diketahui dari angka feed convertion ratio (FCR) dan feed cost
gain. Berdasarkan alasan tersebut dan untuk efisiensi biaya pakan, maka
proporsi jumlah induk harus dibuatseifisiensi mungkin dengan rasio induk / pejantan yang efisien 30 : 1,
bila S/C=1 dan 15 : 1 bila S/C=2.
1. SEJARAH SINGKAT Domba
yang kita kenal sekarang merupakan hasil dometikasi manusia yang sejarahnya
diturunkan dari 3 jenis domba liar, yaitu Mouflon (Ovis musimon) yang berasal
dari Eropa Selatan dan Asia Kecil, Argali (Ovis amon) berasal dari Asia
Tenggara, Urial (Ovis vignei) yang berasal dari Asia.
2. SENTRA PETERNAKAN Di
Indonesia sentra peternakan domba berada di daerah Aceh dan Sumatra Utara. Di
Aceh pada tahun 1993 tercatat sekitar 106 ribu ekor domba, sementara di
Sumatera Utara sekitar 95 ribu ekor domba yang diternakan. Lahan yang digunakan
untuk berternak di daerah Aceh berdasarkan data Puslit Tanah dan Agroklimat
Deptan tahun 1979, seluas 5,5 juta hektar mulai dari kemampuan kelas I sampai
VIII, sedangkan di Sumatera Utara luas lahan yang digunakan sekitar 7 juta
hektar.
3. J E N I S Domba
seperti halnya kambing, kerbau dan sapi, tergolong dalam famili Bovidae. Kita
mengenal beberapa bangsa domba yang tersebar diseluruh dunia, seperti:
1)Domba Kampung adalah domba yang berasal dari Indonesia
2)Domba Priangan berasal dari Indonesia dan banyak terdapat di daerah Jawa
Barat.
3)Domba Ekor Gemuk merupakan domba yang berasal dari Indonesia bagian Timur
seperti Madura, Sulawesi dan Lombok.
4)Domba Garut adalah domba hasil persilangan segi tiga antara domba kampung,
merino dan domba ekor gemuk dari Afrika Selatan.
Di Indonesia, khususnya di Jawa, ada 2 bangsa domba yang terkenal, yakni domba
ekor gemuk yang banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur dan domba
ekor tipis yang banyak terdapat di Jawa Barat
4. MANFAAT
Daging domba merupakan sumber protein dan lemak hewani. Walaupun belum
memasyarakat, susu domba merupakan minuman yang bergizi. Manfaat lain dari
berternak domba adalah bulunya dapat digunakan sebagai industri tekstil.
5. PERSYARATAN LOKASI
Lokasi untuk peternakan domba sebaiknya berada di areal yang cukup luas, udaranya
segar dan keadaan sekelilingnya tenang, dekat dengan sumber pakan ternak,
memiliki sumber air, jauh dari daerah pemukiman dan sumber air penduduk
(minimal 10 meter), relatif dekat dari pusat pemasaran dan pakan ternak.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Domba yang unggul adalah domba yang sehat dan tidak terserang oleh hama
penyakit, berasal dari bangsa domba yang persentase kelahiran dan kesuburan
tinggi, serta kecepatan tumbuh dan persentase karkas yang baik. Dengan demikian
keberhasilan usaha ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan
induk/pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik.Penyiapan Sarana dan
Peralatan
1. Perkandangan
Kandang harus kuat sehingga dapat dipakai dalam waktu yang lama, ukuran sesuai
dengan jumlah ternak, bersih, memperoleh sinar matahari pagi, ventilasi kandang
harus cukup dan terletak lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya agar tidak
kebanjiran. Atap kandang diusahakan dari bahan yang ringan dan memiliki daya
serap panas yang relatif kecil, misalnya dari atap rumbia.
Kandang dibagi menjadi beberapa bagian sesuai fungsinya, yaitu:
a. Kandang induk/utama, tempat domba digemukkan. Satu ekor domba membutuhkan
luas kandang 1 x 1 m.
b. Kandang induk dan anaknya, tempat induk yang sedang menyusui anaknya selama
3 bulan. Seekor induk domba memerlukan luas 1,5 x 1 m dan anak domba memerlukan
luas 0,75 x 1 m.
c. Kandang pejantan, tempat domba jantan yang akan digunakan sebagai pemacak
seluas 2 x 1,5 m/pemancak.
Di dalam kandang domba sebaiknya terdapat tempat makan, palung makanan dan
minuman, gudang makanan, tempat umbaran (tempat domba saat kandang dibersihkan)
dan tempat kotoran/kompos.
Tipe dan model kandang pada hakikatnya dapat dibedakan dalam 2 tipe, yaitu:
a. Tipe kandang Panggung
Tipe kandang ini memiliki kolong yang bermanfaat sebagai penampung kotoran.
Kolong digali dan dibuat lebih rendah daripada permukaan tanah sehingga kotoran
dan air kencingnya tidak berceceran. Alas kandang terbuat dari kayu/bambu yang
telah diawetkan, Tinggi panggung dari tanah dibuat minimal 50 cm/2 m untuk
peternakan besar. Palung makanan harus dibuat rapat, agar bahan makanan yang
diberikan tidak tercecer keluar.
b. Tipe kandang Lemprak
Kandang tipe ini pada umumnya digunakan untuk usaha ternak domba kereman.
Kandang lemprak tidak dilengkapi dengan alas kayu, tetapi ternak beralasan
kotoran dan sisa-sisa hijauan pakan. Kandang tidak dilengkapi dengan palung
makanan, tetapi keranjang rumput yang diletakkan diatas alas. Pemberian pakan
sengaja berlebihan, agar dapat hasil kotoran yang banyak. Kotoran akan
dibongkar setelah sekitar 1-6 bulan.
6.2. Peyiapan Bibit
Domba yang unggul adalah domba yang sehat dan tidak terserang oleh hama
penyakit, berasal dari bangsa domba yang persentase kelahiran dan kesuburan
tinggi, serta kecepatan tumbuh dan persentase karkas yang baik. Dengan demikian
keberhasilan usaha ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan
induk/pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik.
1) Pemilihan Bibit Calon Induk
a.Calon Induk: berumur 1,5-2 tahun, tidak cacat, bentuk perut normal, telinga
kecil hingga sedang, bulu halus, roman muka baik dan memiliki nafsu kawin besar
dan ekor normal
b.Calon Pejantan: berumur 1,5-2 tahun, sehat dan tidak cacat, badan normal dan
keturunan dari induk yang melahirkan anak 2 ekor/lebih, tonjolan tulang pada
kaki besar dan mempunyai buah zakar yang sama besar serta kelaminnya dapat
bereaksi, mempunyai gerakan yang lincah, roman muka baik dan tingkat
pertumbuhan relatif cepat.
2) Reproduksi dan Perkawinan
Hal yang harus di ketahui oleh para peternak dalam pengelolaan reproduksi
adalah pengaturan perkawinan yang terencana dan tepat waktu.
a.Dewasa Kelamin, yaitu saat ternak domba memasuki masa birahi yang pertama
kali dan siap melaksanakan proses reproduksi. Fase ini dicapai pada saat domba
berumur 6-8 bulan, baik pada yang jantan maupun yang betina.
b.Dewasa tubuh, yaitu masa domba jantan dan betina siap untuk dikawinkan. Masa
ini dicapai pada umur 10-12 bulan pada betina dan 12 bulan pada jantan.
Perkawinan akan berhasil apabila domba betina dalam keadaan birahi.
3) Proses Kelahiran
Lama kebuntingan bagi domba adalah 150 hari (5 bulan). Menjelang kelahiran anak
domba, kandang harus bersih dan diberi alas yang kering. Bahan untuk alas
kandang dapat berupa karung goni/jerami kering. Obat yang perlu dipersiapkan
adalah jodium untuk dioleskan pada bekas potongan tali pusar.
Induk domba yang akan melahirkan dapat diketahui melalui perubahan fisik dan
perilakunya sebagai berikut:
a. Keadaan perut menurun dan pinggul mengendur.
b. Buah susu membesar dan puting susu terisi penuh.
c. Alat kelamin membengkak, berwarna kemerah-merahan dan lembab.
d. Ternak selalu gelisah dan nafsu makan berkurang.
e. Sering kencing.
Proses kelahiran berlangsung 15-30 menit, jika 45 menit setelah ketuban pecah,
anak domba belum lahir, kelahiran perlu dibantu. Anak domba yang baru lahir
dibersihkan dengan menggunakan lap kering agar dapat bernafas. Biasanya induk
domba akan menjilati anaknya hingga kering dan bersih.
6.3. Pemeliharaan
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
Sanitasi lingkungan dapat dilakukan dengan membersihkan kandang dan peralatan
dari sarang serangga dan hama. kandang terutama tempat pakan dan tempat minum
dicuci dan dikeringkan setiap hari. Perlu dilakukan pembersihan rumput liar di
sekitar kandang. Kandang ternak dibersihkan seminggu sekali.
2) Pengontrolan Penyakit
Domba yang terserang penyakit dapat segera diobati dan dipisahkan dari yang
sehat. Lakukan pencegahan dengan menyuntikan vaksinasi pada domba-domba yang
sehat.
3) Perawatan Ternak
Induk bunting diberi makanan yang baik dan teratur, ruang gerak yang lapang dan
dipisahkan dari domba lainnya. induk yang baru melahirkan diberi minum dan
makanan hijauan yang telah dicampurkan dengan makanan penguat lainnya. Selain
itu, induk domba harus dimandikan. Anak domba (Cempe) yang baru dilahirkan,
dibersihkan dan diberi makanan yang terseleksi. Cempe yang disapih perlu
diperhatikan. pakan yang berkualitas dalam bentuk bubur tidak lebih dari 0,20
kg satu kali sehari.
Perawatan ternak dewasa meliputi:
a.Memandikan ternak secara rutin minimal seminggu sekali. dengan cara disikat
dan disabuni. pada pagi hari, kemudian dijemur dibawah sinar matahari pagi.
b.Mencukur Bulu
Pencukuran bulu domba dengan gunting biasa/cukur ini. dilakukan minimal 6 bulan
sekali dan disisakan guntingan bulu setebal kira-kira 0,5 cm. Sebelumnya domba
dimandikan sehingga bulu yang dihasilkan dapat dijadikan bahan tekstil. Keempat
kaki domba diikat agar tidak lari pada saat dicukur. Pencukuran dimulai dari
bagian perut kedepan dan searah dengan punggung domba
c.Merawat dan Memotong Kuku
Pemotongan kuku domba dipotong 4 bulan sekali dengan golok, pahat kayu, pisau
rantan, pisau kuku atau gunting.
4) Pemberian Pakan
Zat gizi makanan yang diperlukan oleh ternak domba dan mutlak harus tersedia
dalam jumlah yang cukup adalah karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral
dan air. Bahan pakan untuk domba pada umumnya digolongkan dalam 4 golongan
sebagai berikut:
a.Golongan Rumput-rumputan, seperti rumput gajah, benggala, brachiaria, raja,
meksiko dan rumput alam.
b.Golongan Kacang-kacangan, seperti daun lamtoro, turi, gamal daun kacang
tanah, daun kacang-kacangan, albisia, kaliandra, gliricidia dan siratro.
c.Hasil Limbah Pertanian, seperti daun nangka, daun waru, daun dadap, daun
kembang sepatu, daun pisang, daun jagung, daun ketela pohon, daun ketela rambat
dan daun beringin.
d.Golongan Makanan Penguat (Konsentrat), seperti dedak, jagung karing, garam
dapur, bungkil kelapa, tepung ikan, bungkil kedelai, ampas tahu, ampas kecap
dan biji kapas.
Pakan untuk domba berupa campuran dari keempat golongan di atas yang
disesuaikan dengan tingkatan umur. Adapun proporsi dari campuran tersebut
adalah:
a. Ternak dewasa: rumput 75%, daun 25%
b. Induk bunting: rumput 60%, daun 40%, konsentrat 2-3 gelas
c. Induk menyusui: rumput 50%, daun 50% dan konsentrat2-3 gelas
d. Anak sebelum disapih: rumput 50%, daun 50%
e. Anak lepas sapih: rumput 60%, daun 40% dan konsentrat 0,5–1 gelas
Sedangkan dosis pemberian ransum untuk pertumbuhan domba adalah sebagai
berikut:
a. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=180 kg/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
b. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=340 kg/hari, pertambahan bobot=100
gr/hari
c. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=410 kg/hari, pertambahan bobot=150
gr/hari
d. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=110 kg/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
e. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=280 kg/hari, pertambahan bobot=100
gr/hari
f. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=440 kg/hari, pertambahan bobot=150
gr/hari
g. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=160 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
h. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=320 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
i. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=470 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
j. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=100 gr/hari, pertambahan bobot=50 gram/hari
k. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=260 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
l. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=410 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
m. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=60 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
n. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=180 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
o. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=340 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
p. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=50 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
q. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=110 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
r. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=260 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
s. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=40 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
t. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=280 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
u. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=440 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
5) Pemberian Vaksinasi dan Obat
Pemberian vaksinasi dapat dilakukan setiap enam bulan sekali vaksinasi dapat
dilakukan dengan menyuntikan obat kedalam tubuh domba. Vaksinasi mulai
dilakukan pada anak domba (cempe) bila telah berusia 1 bulan, selanjutnya
diulangi pada usia 2-3 bulan. Vaksinasi yang biasa diberikan adalah jenis
vaksin Spora (Max Sterne), Serum anti anthrax, vaksin AE, dan Vaksin SE
(Septichaemia Epizootica).
6) Pemeliharaan Kandang
Pemeliharaan kandang meliputi pembersihan kotoran domba menimal satu minggu
sekali, membuang kotoran ke tempat penampungan limbah, membersihkan lantai atau
alas, penyemprotan dan pengapuran kandang untuk disinfektan.
7.
HAMA DAN PENYAKIT
1)Penyakit Mencret Penyebab: bakteri Escherichia coli
yang menyerang anak domba berusia 3 bulan. Pengobatan: antibiotika dan sulfa
yang diberikan lewat mulut.
2)Penyakit Radang Pusar Penyebab: alat pemotongan pusar
yang tidak steril atau tali pusar tercemar oleh bakteri Streptococcus,
Staphyloccus, Escherichia coli dan Actinomyces necrophorus. Usia domba yang
terserang biasanya cempe usia 2-7 hari.
Gejala : terjadi pembengkakan di sekitar pusar dan apabila disentuh domba akan
kesakitan.
Pengobatan: dengan antibiotika, sulfa dan pusar dikompres dengan larutan
rivanol (Desinfektan)
3)Penyakit Cacar Mulut
Penyakit ini menyerang domba usia sampai 3 bulan.
Gejala : cempe yang terserang tidak dapat mengisap susu induknya karena
tenggorokannya terasa sakit sehingga dapat mengakibatkan kematian.
Pengendalian : dengan sulfa seperti Sulfapyridine, Sulfamerozine, atau
pinicillin.
4)Penyakit Titani
Penyebab: kekurangan Defisiensi Kalsium (Ca) dan Mangan (Mn). Domba yang
diserang biasanya berusia 3-4 bulan.
Gejala : domba selalu gelisah, timbul kejang pada beberapa ototnya bahkan
sampai keseluruh badan Penyakit ini dapat diobati dengan menyuntikan larutan
Genconos calcicus dan Magnesium.
5)Penyakit Radang Limoah
Penyakit ini menyerang domba pada semua usia, sangat berbahaya, penularannya
cepat dan dapat menular ke manusia
Penyebab: bakteri Bacillus anthracis.
Gejala : suhu tubuh meninggi, dari lubang hidung dan dubur keluar cairan yang
bercampur dengan darah, nadi berjalan cepat, tubuh gemetar dan nafsu makan hilang.
Pengendalian : dengan menyuntikan antibiotika Pracain penncillin G, dengan
dosis 6.000-10.000 untuk /kg berat tubuh domba tertular.
6)Penyakit Mulut dan Kuku
Penyakit menular ini dapat menyebabkan kematian pada ternak domba, dan yang
diserang adalah pada bagian mulut dan kuku.
Penyebab: virus dan menyerang semua usia pada domba
Gejala : mulut melepuh diselaputi lendir.
Pengendalian : membersihkan bagian yang melepuh pada mulut dengan menggunakan
larutan Aluminium Sulfat 5%, sedangkan pada kuku dilakukan dengan merendam kuku
dalam larutan formalin atau Natrium karbonat 4%.
7)Penyakit Ngorok
Penyebab: bakteri Pasteurella multocida.
Gejala : nafsu makan domba berkurang, dapat menimbulkan bengkak pada bagian
leher dan dada. Semua usia domba dapat terserang penyakit ini, domba yang
terserang terlihat lidahnya bengkak dan menjulur keluar, mulut menganga, keluar
lendir berbuih dan sulit tidur.
Pengendalian : menggunakan antibiotika lewat air minum atau suntikan.
8)Penyakit Perut Kembung
Penyebab: pemberian makanan yang tidak teratur atau makan rumput yang masih
diselimuti embun.
Gejala :lambung domba membesar dan dapat menyebabkan kematian. Untuk itu
diusahakan pemberian makan yang teratur jadwal dan jumlahnya jangan
digembalakan terlalu pagi
Pengendalian : memberikan gula yang diseduh dengan asam, selanjutnya kaki domba
bagian depan diangkat keatas sampai gas keluar.
9)Penyakit Parasit Cacing
Semua usia domba dapat terserang penyakit ini.
Penyebab:cacing Fasciola gigantica (Cacing hati), cacing Neoascaris vitulorum
(Cacing gelang), cacing Haemonchus contortus (Cacing lambung), cacing Thelazia
rhodesii (Cacing mata).
Pengendalian : diberikan Zanil atau Valbazen yang diberikan lewat
minuman, dapat juga diberi obat cacing seperti Piperazin dengan dosis 220
mg/kg berat tubuh domba.
10)Penyakit Kudis
Merupakan penyakit menular yang menyerang kulit domba pada semua usia. Akibat
dari penyakit ini produksi domba merosot, kulit menjadi jelek dan mengurangi
nilai jual ternak domba.
Penyebab: parasit berupa kutu yang bernama Psoroptes ovis, Psoroptes ciniculi
dan Chorioptes bovis. Gejala : tubuh domba lemah, kurus, nafsu makan menurun
dan senang menggaruk tubuhnya. Kudis dapat menyerang muka, telinga, perut
punggung, kaki dan pangkal ekor.
Pengendalian : dengan mengoleskan Benzoas bensilikus 10% pada luka, menyemprot
domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%.
11)Penyakit Dermatitis
Adalah penyakit kulit menular pada ternak domba, menyerang kulit bibit domba.
Penyebab: virus dari sub-group Pox virus dan menyerang semua usia domba.
Gejala : terjadi peradangan kulit di sekitar mulut, kelopak mata, dan alat
genital. Pada induk yang menyusui terlihat radang kelenjar susu.
Pengendalian : menggunakan salep atau Jodium tinctur pada luka.
12)Penyakit Kelenjar Susu
Penyakit ini sering terjadi pada domba dewasa yang menyusui, sehingga air susu
yang diisap cempe tercemar.
Penyebab: ambing domba induk yang menyusui tidak secara ruti dibersihkan.
Gejala : ambing domba bengkak, bila diraba tersa panas, terjadi demam dan suhu
tubuh tinggi, nafsu makan kurang, produsi air susu induk berkurang.
Pengendalian : pemberian obatobatan antibiotika melalui air minum.
Secara umum pengendalian dan pencegahan penyakit yang terjadi pada domba dapat
dilakukan dengan:
a)Menjaga kebersihan kandang, dan mengganti alas kandang.
b)Mengontrol anak domba (cempe) sesering mungkin.
c)Memberikan nutrisi dan makanan penguat yang mengandung mineral, kalsium dan
mangannya.
d)Memberikan makanan sesuai jadwal dan jumlahnya, Hijauan pakan yang baru
dipotong sebaiknya dilayukan lebih dahulu sebelum diberikan.
e)Menghindari pemberian makanan kasar atau hijauan pakan yang terkontaminasi
siput dan sebelum dibrikan sebainya dicuci dulu.
f)Sanitasi yang baik, sering memandikan domba dan mencukur bulu.
g)Tatalaksana kandang diatur dengan baik.
h)Melakukan vaksinasi dan pengobatan pada domba yang sakit.
8.
P A N E N
8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya domba adalah karkas (daging)
8.2. Hasil Tambahan
Hasil tambahan dari budidaya domba adalah bulunya (wool) yang dapat di jadikan
sebagai bahan tekstil.
8.3. Pembersihan
Sebelum dipotong ternak dibersihkan dengan cara mencuci kaki domba dan
menyemprotkan air diatas kepala ternak agar karkas yang dihasilkan tidak
tercemar oleh bakteri dan kotoran.
9.
PASCA PANEN
9.1.Stoving Ada
beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan domba agar
diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
1)Ternak domba harus diistirahatkan sebelum pemotongan
2)Ternak domba harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat
mencemari daging.
3)Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang
diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara
tuntas.
4)Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis
mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.
9.2.Pengulitan
Pengulitan pada domba yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan
pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit domba dibersihkan dari
daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan
alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit domba dijemur dalam keadaan
terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari
adalah dalam posisi sudut 45 derajat.
9.3.Pengeluaran Jeroan
Setelah domba dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan
jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut
domba.
9.4.Pemotongan Karkas
Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas
tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha
depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi
komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat
penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan
hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme
selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.
11. DAFTAR PUSTAKA
a)Bambang agus murtidjo. 1993. Memelihara Domba, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
b)Bambang Cahyono. 1998. Beternak Domba dan Kambing, Penerbit Kanisius,
Yogyakarta.
c)Bambang Sugeng. 1990. Beternak Domba. Penebar Swadaya, Jakarta,
d)Joko santoso dkk. 1991. Pengembangan Ternak Potong di Pedesaan (Prosiding),
Fakultas Peternakan UNSOED. Purwokerto.
e)Warta pertanian No. 125/Th.X/1993, Peternakan, Jakarta, 1993.
12. KONTAK HUBUNGAN
1) Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
2) Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan
Pemasyarakatan Iptek,
Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia,